PW Katele Kelurahan Kembangarum
SEMARANG - UP2K PKK Kelurahan Kembangarum adalah sarana pemasaran produk UMKM secara online yang menjadi wadah bagi warga untuk memasarkan hasil olahan dari potensi lokal. Sarana ini tidak hanya berfungsi sebagai etalase digital, tetapi juga sebagai pusat pengembangan kapasitas bagi para pelaku usaha dalam hal pengemasan, branding, dan strategi pemasaran modern untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat, kini menjadi pusat perhatian sebagai wilayah dengan potensi besar untuk pengembangan budidaya perikanan, pertanian perkotaan, serta pengelolaan lingkungan berbasis ekonomi biru (blue economy). Potensi inilah yang mendorong kolaborasi strategis antara Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dan Universitas AKI (UNAKI) dalam membentuk sebuah program inovatif bernama Kampung Tematik Lele, atau yang lebih dikenal dengan sebutan KATELE.
Program prestisius ini berhasil mendapatkan dukungan penuh dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendikbudristek melalui Skema Pemberdayaan Wilayah Tahun 2024. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada budidaya ikan lele sebagai komoditas utama, tetapi juga secara cerdas memadukan berbagai elemen agrikultur modern seperti budidaya jamur tiram dan pengembangan maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pakan alternatif yang berkelanjutan.
Model yang diusung oleh KATELE adalah sistem terintegrasi yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular atau zero waste. Limbah organik dari rumah tangga dan lingkungan sekitar dimanfaatkan secara produktif untuk budidaya maggot BSF. Maggot ini kemudian diolah menjadi pakan lele yang kaya protein, secara signifikan mengurangi ketergantungan peternak pada pakan pabrikan yang harganya terus meningkat. Langkah ini tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga menjadi solusi konkret dalam pengelolaan sampah organik di tingkat kelurahan.
Lebih dari itu, program ini juga memperkenalkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi. Tim dari UNAKI mengembangkan sistem pemantauan kualitas air kolam berbasis Internet of Things (IoT). Melalui perangkat sensor yang terhubung ke ponsel pintar, para peternak dapat memantau parameter vital seperti suhu dan tingkat keasaman (pH) air secara real-time. Teknologi ini memungkinkan tindakan korektif yang cepat untuk menjaga kondisi ideal bagi pertumbuhan lele, sehingga dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup dan mempercepat masa panen.
Kolaborasi ini juga bertujuan untuk diversifikasi produk guna meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. Selain menjual lele segar, warga dampingan di 13 RW Kelurahan Kembangarum juga dilatih untuk mengolah ikan lele menjadi produk turunan bernilai jual tinggi, seperti abon, keripik, dan aneka makanan beku. Di sisi lain, budidaya jamur tiram yang terintegrasi tidak hanya memberikan sumber pendapatan tambahan, tetapi sisa media tanamnya (baglog) juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai pakan maggot atau kompos organik.
Dengan demikian, program KATELE bukan sekadar proyek budidaya perikanan biasa. Ini adalah sebuah ekosistem pemberdayaan masyarakat yang lengkap, menggabungkan ketahanan pangan, inovasi teknologi, pengelolaan lingkungan, dan peningkatan ekonomi lokal. Inisiatif ini diharapkan menjadi model percontohan (best practice) pertanian perkotaan terpadu yang dapat direplikasi di wilayah lain, sejalan dengan upaya pemerintah dalam mencapai kemandirian pangan dan pembangunan berkelanjutan.






Komentar Pengunjung
Tinggalkan Komentar